"Lebaran gue balik Bandung sembilan hari, bokap mau mudik ke Tasik katanya" ...... Begitulah beberapa kata yang bisa gue tangkep pas lagi sahur tadi pagi. Pascal anak tunggal, gua juga anak tunggal. Tapi kita punya perbedaan 180 derajat. Kalau keluarga gue lebih democratic cuek bebek, kalau keluarganya Pascal semi monarchy. Mungkin karena gue hidup berpindah-pindah dari sini kesana ngikut bokap gue yang suka banget mengembangkan kerajaannya, sedangkan Pascal besar di Bandung dari kecil sampai besar ngikut bokapnya yang memang sudah memiliki kerajaan di Bandung.
Cara pola berfikir gue dan dia pun bisa dibilang way too different. Kalau gue mikir realistis mistis yang suka kearah menghayal, kalau Pascal realistis statis, monoton tapi make sense. Gue suka kasian sama dia yang put lots of effort to make our relationship works, dia kerja dari pagi sampai malem demi untuk nunjukin sama bokapnya kalau dia itu bisa kerja di KL dan berhak untuk postpone his master degree. Tapi dibalik itu semua gue tau kalau sebenernya dia kepengen deket sama gue yang rada bandel kalau ditinggal jauh-jauh. Bukannya apa-apa ya, sebenernya gue bisa aja haha hihi di Melbourne tanpa musti kerja karena gue masih dapet trust fund dari bokap sampai gue berumur 28 tahun and I don't spend too much tho so I have my own saving. Cuma gue ga suka aja tinggal di Melbourne. Gue gak tau musti ngapain. Ambil master degree ? No way ! Tuh kan keliatan kalau ini gue yang egois ........................
Gue mau cerita nih, jadi keluarganya Pascal udah mulai ngejodoh-jodohin dia. Duh cyn ....... hati gue remuk kaya dilindes pesawatnya persiden amrik deh rasanya. Gue cuma bisa bengong, pahamin nasip gue, pahamin nasib hubungan kita, pahamin nasip Pascal *tetep yang gue pahamin duluan itu nasip diri sendiri, hahaha*. Gue peluk dia lama banget. Ngeredain kegalauan yang lagi dia alami. Gua cuma bisa bilang "ya jalanin aja apa yang lu mau, toh yang bakalan ngerasain dan nikmatin juga elu sendiri". Dia diem lama. Ngeliat gue penuh makna.
P : Kok tumben lu bisa wise begini ?? *mulai cairin suasana*
G : Ye emang gue wise lagi, lu aja yang gak pernah anggep gue serius.
P : Thanks ya for the advise, cheesy sih cuma make sense.
G : *rolling my eyes*
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
On my pillow talks, Pascal and I were arguing something really touching for me.
P : Kalau gue nanti balik Bandung terus gue dikenalin sama calon istri pilihan orang tua gue gimana ?
G : Ya gak gimana-gimana, emangnya harus "gimana" sampai lu tanya gue "gimana" ?
P : Bukannya gitu, gue kan cuma wondering aja kalau ternyata orang tua gue suka banget sama pilihannya itu.
G : Yaudah lu nikah aja sama dia kalau lu suka dan cinta. Katanya mau punya baby diumur 20 tahunan. Kalau lu sama gue, gue gak bakalan bisa hamil mau kata kita having sex without condom all the time.
P : Bukan masalah itu Ndro. Gue gak mau kehilangan lu, gue pengen lu selalu ada disamping gue.
G : Just be realistic deh Cal, lu yakin mau spend your life with me ? Apa kata orang nanti ? Apa kata keluarga lu. Kalau gue sih palingan kalo udah disuruh-suruh kaya elu begini, gue bakalan kabur kemana gitu. Ngilang dan gak akan kembali.
P : Gue gak pengen kaya gitu juga kalee ............ *sambil acak-acak rambut gue*
G : Ya kan gue gak nyuruh lu begitu juga, gue cuma bilang "kalau gue" "if I were you" ngerti gak sih ?? You speak bilingual kan ???? *bete dibecandain pas lagi serius* *sorry, binan lagi dapet*
P : Iya gue paham kok maksud lu apaan. Udah ah gue ngantuk, 3 jam lagi gue musti bangun. Ada meeting pagi.
Dan, sepertinya gue punya bayangan apa yang akan terjadi sama hidup gue selanjutnya. Ya, as for now, gue mau nikmatin hidup gue semaksimal mungkin, supaya gue gak kehabisan kebahagian dikemudian hari. Itu-itu bekel kebahagiaan saat gue musti liat Pascal ninggalin gue, for good :")
aduh sedih nyeeeet. SKIP cerita yang bahagia-bahagia haha hihi aja deh....
ReplyDelete